Teresa Teng, Penyanyi Legendaris Taiwan Mejeng di Google Doodle

Rabu, 31 Januari 2018 15:04:00
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Farid Hidayat
Teresa Teng di Google Doodle. (Istimewa)

MERAYAKAN ulang tahun Teresa Teng ke-65, Google Doodle menampilkan karikatur penyanyi legendaris asal Taiwan di laman mesin pencari.

Pada Akhir Januari, tepatnya Senin (29/1/2018), Google Doodle menampilkan Teresa Teng di laman mensin pencarian. Hal ini sebagai bentuk merayakan Ulang Tahun ke-65 penyanyi legendaris asal Taiwan tersebut.

Selama lebih kurang 30 tahun berkarier, sosok Teresa Teng dikenal luas di komunitas masyarakat berbahasa Mandarin dan di seluruh Asia Timur, termasuk Jepang.

Dikenal sebagai salah satu dari Lima Diva Agung Asia, popularitas Teresa Teng dipengaruhi kemampuannya menyanyikan beragam lagu romatis dalam beberapa bahasa seperti Mandarin, Inggris, Jepang, Vietnam, Kanton, Hokkien, bahkan Indonesia.

Wanita berparas cantik ini memang nyatanya pernah membawakan sejumlah lagu dalam bahasa Indonesia, mulai dari ‘Dayung Sampan’, ‘Cinta Suci’, ‘Sekuntum Mawar Merah’, dan ‘Selamat Jalan Kekasih’ atau ‘Good Bye My Love.’

Teresa Teng populer berkat lagu-lagunya yang merakyat dan bernada balada romantis. Salah satu lagunya yang sangat terkenal berjudul "Hé Rì Jūn Zài Lái" atau dalam bahasa Indonesia memiliki arti "Kapankah Kau Akan Kembali".

Meski lagu-lagunya sempat dilarang beredar di Tiongkok pada era 1980-an karena alasan politis, popularitasnya semakin tumbuh berkat beredarnya rekaman suara Teresa Teng di pasar gelap. Tak hanya itu, lagu-lagunya pun semakin populer dan terus dimainkan di mana-mana, mulai dari klub malam hingga ke gedung-gedung pemerintahan.

Tak hanya tampil dengan paras yang cantik, suara dan kemampuan Teresa Teng pernah dipuji oleh seorang profesor Teori Kebudayaan di Universitas Southern California, Yeh Yueh-Yu. Dia mengatakan, “Suaranya yang sangat manis membuatnya menjadi begitu terkenal." Teresa Teng pun dipercaya memiliki kualitas suara yang tepat untuk menyanyikan lagu-lagu folk dan balada.

Tak hanya itu, banyak penikmat musik yang menyatakan suara Teresa Teng seakan-akan seperti menangis dan memohon, tapi dengan kekuatan yang mampu menarik dan menghipnotis pendengar.

Teresa Teng meninggal dunia akibat serangan asma akut ketika sedang berlibur di Chiang Mai, Thailand, saat usia 42 tahun pada 8 Mei 1995. Meski begitu, dokter dan partnernya, Paul Quilery, berspekulasi dia meninggal dunia dari serangan jantung karena efek samping akibat overdosis amfetamin.

Kala itu dia dimakamkan bagaikan seorang pahlawan, dengan bendera Taiwan menyelimuti peti matinya dan Presiden Taiwan saat itu, Lee Teng-hui, menghadiri pemakamannya.

Teresa Teng dimakamkan di kaki gunung di Chin Pao San, sebuah kompleks pemakaman dekat Jinshan, Taipei, Taiwan. Di tempat pemakamannya berdiri sebuah patung dirinya (sebagai tugu peringatan), diiringi dengan musik lagu-lagunya sebagai latar belakang.

Bukan itu saja, di sana juga terdapat sebuah piano elektronik berukuran raksasa. Para pengunjung yang berziarah dapat memainkannya dengan menginjak balok-balok piano tersebut.