Wacinwa, Wayang Persilangan Tiongkok-Jawa

2017-11-03 13:47:14
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Wacinwa (Istimewa)

SENI pertunjukkan Wayang Tiongkok-Jawa atau Wacinwa diperkenalkan oleh Gan Thwan Sing. Seni pertunjukkan wayang ini hasil persilangan budaya Tiongkok-Jawa.

Etnis Tiongkok dan Jawa sudah lama hidup berdamping. Membentuk budaya Tiongkok-Jawa. Keberagaman budaya dari persilangan Tiongkok-Jawa, meliputi kuliner, pakaian, arsitektur bangunan hingga seni pertunjukan. Pada 1925 di Yogyakarta muncul Wayang Tiongkok-Jawa (Wacinwa) sebagai seni pertunjukkan hasil persilangan Tiongkok-Jawa.

Wacinwa dipelopori oleh Gan Thwan Sing. Pria peranakan kelahiran Jatianom, Klaten ini dikenal sebagai pembuat sekaligus dalang Wacinwa. Dia mewarisi tradisi Tiongkok dari kakeknya, Gang Ing Kwat.

Sosok Gan Thwan Sing muda hafal berbagai bentuk dan wajah tokoh legenda Tiongkok yang sering dibaca dari buku kakeknya. Di sisi lain, sejak kecil kehidupan dan pergaulan dengan penduduk Jatinom menjadikan dirinya paham bahasa dan budaya Jawa.

Pada  awal abad 20, Gan Thwan Sing pindah ke Yogyakarta untuk mendalami seni pertunjukan dengan belajar seni pedalangan dan musik karawitan. Pengetahuan dan wawasan luas yang diperoleh Gan Thwan Sing di Yogyakarta, melahirkan gagasan untuk menciptakan Wacinwa.

Wayang ini hanya memiliki dua set di dunia. Satu set wayang, menjadi koleksi Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Sedangkan satunya lagi merupakan milik Dr. Walter Angst. Tersimpan di Uberlingen (Bodensee, Jerman).

Awalnya, Wacinwa yang ada di Dr. Walter Angst merupakan koleksi milik Chineesch Institut Yogyakarta, namun sekitar 1960-an wayang ini dibeli dari sebuah toko barang bekas oleh Dr. F. Seltmann saat berkunjung di Yogyakarta. Setelah Dr. F. Seltmann meninggal tahun 1995, wayang tersebut dibeli oleh Dr. Walter Angst.

Untuk Wacinwa yang dimiliki Museum Sonobudoyo memiliki karakter unik dan berbeda dari wayang pada umumnya. Di sinilah kehebatan kreativitas Gan Thwan Sing dalam membuat wayang. Terlihat dari penggabungan dua simbol budaya dalam satu bentuk wayang. Wayang yang terbuat dari kulit kerbau ini, memilki pernak-pernik yang sama dengan wayang purwa, namun karakter dan bentuk wayang mirip orang Tiongkok.

Karakter tokoh wayang juga beragam, ada sekitar 200-an tokoh wayang dan ratusan potongan karakter kepala yang dapat diganti sesuai kehendak dalang. Selain itu, ukuran wayang relatif lebih kecil, berukuran rata-rata 70 cm. Alat yang digunakan sama seperti pertunjukan wayang purwa, berupa gamelan dan kelir (tirai atau layar).

Kelir yang digunakan berukuran 130 x 300 cm dan terdapat tulisan bahasa Melayu ditengah sisi bawah, yang berbunyi: ‘Terbikin Gan Thwan Sing –Djogja, 27 November 1942.’ Selain itu, pada pertunjukan Wacinwa juga terdapat kambi kelir, kotak, cempolo, kepyak, blencong, sapit blencong, dan gedhebog. Tata cara pertunjukan wacinwa diawali mengucapkan mantra oleh dalang dilanjutkan pertunjukan yang terbagi dalam tiga pembabakan dengan durasi sekitar 6-7 jam.

Pertunjukan Wacinwa dapat dilakukan dimana saja, misalnya kelenteng atau rumah warga yang kebetulan sedang mempunyai hajatan. Dalang dan pengrawitnya (penabuh gamelan) wacinwa juga menggunakan tembang Jawa bernada pelog dan slendro berbahasa Jawa.

Bahasa Jawa yang digunakan bukan bahasa Jawa halus, melainkan bahasa Jawa yang khas digunakan oleh masyarakat Tionghoa peranakan, yang di kenal dengan bahasa Jawa ‘lumrah’. Hanya saja, busana yang digunakan yaitu pakaian sehari-hari, bukan menggunakan beskap.

Cerita dalam pertunjukan Wacinwa diambil dari legenda masyarakat Tiongkok pada masa pemerintahan Dinasti Tang (618-907) Masehi. Wacinwa menceritakan tentang kepahlawanan Sie Jin Kwie dari kerajaan Tong Tya.