Wushu, Way of Life

2018-01-09 13:56:22
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : Oktaviani
Ilustrasi - Wushu. (Istimewa)

TAK sekadar pendidikan fisik, wushu juga ajarkan pendidikan mental dan pikiran. Bahkan, wushu sudah menjadi way of life.

Wushu bisa diartikan sebagai seni untuk bertempur atau beladiri. Namun, wushu tak sekadar mengajarkan gerakan beladiri yang lentur dan lembu, namun juga pernapasan, kendali atau kontrol pikiran, dan pandangan hidup yang baik. Artinya, bukan hanya pendidikan fisik, namun juga mental dan pikiran. Way of life.

Secara garis besar, ilmu beladiri tradisional dari Tiongkok ini dapat meningkatkan kekuatan, kelincahan, fleksibilitas, kemampuan koordinasi, kecepatan, konsentrasi mental, rasa percaya diri dan semangat. Wushu pun memiliki manfaat rekreasi yang dapat meningkatkan atau memperbaharui kesegaran pikiran.

Berlatih wushu juga berarti melatih kesabaran dan kejelian. Oleh karena itu, mereka yang berhasil menguasai beberapa gerakan dasar wushu memiliki keuntungan terhindar dari stres dan perasaan tertekan lainnya.

Beragam manfaat inilah yang membuat ilmu beladiri ini tidak mudah untuk dipelajari. Namun, bagi mereka yang mampu bertahan untuk memperdalam wushu, akan menerima manfaat dan keuntungan yang setimpal dengan usaha yang dilakukan.

Kepopuleran wushu semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini terbukti dengan masuknya wushu ke dalam cabang olahraga yang dikompetisikan dan banyaknya film-film yang menampilkan gerakan wushu.

Untuk diketahui, semua kategori seni beladiri Tiongkok yang tradisional, keras, dan lembut dapat disebut wushu. Wushu keras termasuk tinju selatan Nanquan dan tinju panjang Changquan. Wushu lembut termasuk tinju Taiji, Telapak Baguazhang, dan tinju Xingyiquan. Seni beladiri Wushu yang telah dikembangkan oleh etnis Tionghoa yang menetap di wilayah Asia Tenggara (terutama Indonesia) seringkali disebut dengan istilah Kuntao.