Banting Tulang Demi Pengobatan Si Adik yang Menderita Leukemia

2017-08-15 16:21:47
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Ma rela bekerja kasar, banting tulang demi pengobatan si adik, yang menderita leukemia atau kanker darah. (Istimewa)

RELA menjadi buruh kasar, banting tulang mengumpulkan uang demi pengobatan saudaranya. Si adik yang masih belita menderita leukemia.

Seorang pelajar berusia 19 tahun di Provinsi Hubei, Tiongkok, tak kuasa menahan tangis dan haru. Uang untuk pengobatan si adik, menderita leukemia, terpenuhi, berkat bantuan. Sebelumnya ia banting tulang.

Namanya Hupu, siswa sekolah menengah atas, berasal dari keluarga miskin di Hubei. Kondisi itu semakin memprihatinkan, lantaran adiknya yang basih balita, berusia 3 tahun, divonis menderita leukemia, atau kanker darah.

Sebagai kakak, Ma, nama panggilannya, terus berjuang mengumpulkan uang. Rela menjadi buruh kasar. Dari kuli bangunan hingga pekerjaan kasar lainnya. Upah yang diterima, dikumpulkan agar bisa mewujudkan pengobatan adiknya.

Bahkan Ma ingin menjadi seorang dokter, jika adiknya tak bisa terobati. Agar leluasa memberikan kesembuhan.

“Saya harus masuk sekolah kedokteran. Baru setelah itu, saya memiliki kesempatan untuk menyembuhkan adik laki-laki saya,” katanya seperti dikutip dari World of Buzz, Selasa, 15 Agustus 2017.

banting tulang pengobatan adik

Selain kerja keras, ia juga belajar keras agar terwujud cita-citanya menjadi seorang dokter. Sehari setelah ujian akhir, Ma pergi ke lokasi proyek terdekat untuk bekerja sebagai kuli bangunan.

Orangtuanya juga rela bekerja ke luar kota sekitar sebulan yang lalu, untuk mencari uang. Neneknya yang berusia 80 tahun menjadi andalan Ma untuk merawat saudaranya yang sakit.

Ma bersedia melakukan apapun untuk mendapatkan uang agar memenuhi biaya pengobatan adiknya. Dia mengangkat batu bata, mendorong pasir dan melakukan semuanya. Upahnya sekitar 100 yuan per hari.

Kisah Ma ini diangkat oleh media lokal setempat. Mendadak menjadi viral di dunia online. Dilihat sebanyak 3,1 juta kali dan menarik sumbangan dari masyarakat. Hanya dalam waktu 24 jam, terkumpul dana mencapai 600.000 yuan.

Angka yang didapatkan dapat menutupi biaya transplantasi sumsum tulang. Sumbangan itu membuat Ma tak tahan menahan haru. Air matanya mengalir deras mendengar ada sumbangan sebesar itu, bahkan di lokasi proyek. “Akhirnya, adik kecilku bisa diselamatkan!”