Kisah Bocah 9 Tahun Merawat Ibu yang Gila dan Ayah Cacat

2017-10-18 11:50:06
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Xinwang, bocah 9 tahun, merawat ibu yang gila dan ayah cacat fisik. (Istimewa)

SEBUAH kisah pilu, tapi inspiratif, seorang bocah berusia 9 tahun menjadi kepala keluarga. Ia merawat ibu yang gila, dan ayah yang cacat fisik.

Kisah menyedihkan dari Xinwang, bocah 9 tahun di Tiongkok. Harus merelakan masa kecil untuk menjadi kepala keluarga, layaknya orang dewasa. Di usia anak-anak, biasanya sibuk dengan sekolah dan bermain, ia justru menghabiskan waktu untuk merawat ibu yang gila dan ayah cacat.  

Kendati dalam kehidupan berat, dia tetap semangat menjalankan hidup, termasuk menuntut ilmu di bangku sekolah dasar. Aktivitas hariannya, sepulang sekolah, tak seperti anak kebanyakan, menemukan makanan hangat untuk bersantap.

Ia harus memasak, untuk makan orangtuanya. Ibunya menderita sakit mental atau gila, sedangkan ayahnya sakit fisik, sehingga tak bisa lagi bekerja.

Seperti dikutip Sohu, Rabu, 18 Oktober 2017, ke mana-mana, termasuk sekolah, Xinwang tak memakai sepatu atau sandal. Berjalan terkadang menaiki sepeda tanpa alas kaki.

Setelah menyuapi ayahnya yang sudah berusia 70 tahun, Xinwang mengurus ibunya yang kadang-kadang keluyuran ke mana-mana. Aktivitas selanjutnya adalah mengambil air dengan jarak sekitar 100 meter.

kisah bocah

Membawa air dengan kaki telanjang, melewati jalanan sempit sembari memanggul air. Kehidupan keras itu membuat beberapa orang merasa iba melihatnya. Tetangga sekitar kadang memberikan bantuan.  

Sementara, untuk memenuhi kebutuhan makanan setiap hari, diberikan oleh keluarga dari ayah atau ibunya. Hanya saja, terbatas, untuk makan kerap kali hanya semangkok nasi ditaburi rempah-rempah.

Kesibukan Xinwang mengurung orangtuanya, membuat pihak sekolah memakluminya. Ketika datang terlambat, tak ada hukuman baginya, termasuk mengenakan seragam seadanya.

Untuk perlengkapan sekolah, Xinwang banyak mendapatkan bantuan, bahkan dalam mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, teman-teman sekelasnya datang ke rumah untuk membantunya.

Hampir semua barang di rumahnya, perabotan sampai kipas angin, merupakan hasil sumbangan warga sekitar. Ia menjalani kehidupan itu sejak 7 musim dingin yang lalu, dan pekerjaannya semakin berat, seiring dengan usia orangtua yang bertambah.

Xinwang, adalah contoh anak-anak yang mendapatkan kehidupan kurang beruntung. Akan tetapi, semangatnya untuk tetap bertahan dan bertekat menyelesaikan sekolahnya hingga jenjang tertinggi patut ditiru. Semangat tinggi dalam himpitan kehidupan.