Tahun Baru Imlek, Hari Raya Agama Dan Tradisi Tionghoa

Jumat, 09 Februari 2018 15:11:32
Editor : Fauzi Iyabu | Sumber : DBS.
Ilustrasi perayaan Imlek di Palembang, Sumatera Selatan. (Istimewa)

Tahun Baru Imlek merupakan tradisi Tionghoa menyambut musim semi, paska berlalunya musim dingin. Dianggap hari raya agama lantaran kurangnya informasi.

JAKARTA - Tidak sedikit orang yang menganggap Imlek sebagai salah satu Hari Raya Agama Budha, lantaran banyak Vihara yang menyelenggarakan perayaannya. Padahal, Imlek bukanlah hari raya agama, apakah Budha, Tao maupun Khonghucu.

Dalam tulisannya Sutar Soemitro menjelaskan, Imlek merupakan suatu perayaan tradisi menyambut musim semi dan berakhirnya musim dingin yang dilakukan oleh masyarakat Tionghoa di Tiongkok (China), yang dalam perkembangannya ditetapkan sebagai hari penggantian tahun.

Imlek berasal dari dialek Hokkian, artinya ‘Kalender Lunar’ (im= lunar atau bulan; lek = kalender). Dalam dialek Mandarin Imlek adalah ‘YINLI’.  Secara tidak langsung, Tahun Baru Imlek artinya, tahun baru yang dihitung berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Dengan sendirinya, Tahun Baru Imlek adalah tahun barunya semua orang Tionghoa, terlepas dari agama apapun yang dianutnya.

Kesalahpahaman mengenai anggapan bahwa Imlek adalah perayaan agama Buddha, Khong Hucu atau Tao oleh sebagian besar orang, khususnya di Indonesia, didasari kurangnya informasi yang benar. Serta, lekatnya stigma dan sikap menyamaratakan etnis keturunan Tionghoa pastilah beragama Budha, Tao atau Khonghucu, dan agama Budha adalah agama khusus warga etnis Tionghoa.

“Tidak heran, ketika Sehingga ketika umat Budha Indonesia yang sebagian besar terutama di perkotaan adalah etnis Tionghoa merayakan Imlek, maka sebagian besar orang menilai Imlek adalah Hari Raya Agama Budha,” tulisnya.

Dalam sebuah video yang diunggah di Youtube, Bhikkhu Uttamo menjelaskan, “Umat Budha bukanlah agama yang menentang tradisi. Umat Budha boleh menjalankan tradisi Imlek,”. Ada yang suka menjalani tradisi Tionghoa, boleh dijalani. Bagi umat Budha yang bukan berasal dari tradisi Tionghoa, tidak dijalankan juga tidak apa-apa karena bukan keharusan. “Agama Budha tidak berhubungan langsung dengan tradisi Tionghoa, tetapi Agama Budha tidak melarang umatnya untuk melaksanakan tradisi umatnya masing-masing,” lanjut Bhante.

Ia menambahkan, bagi umat Budha dari etnis Tionghoa diperbolehkan melaksanakan tradisi Tionghoa. Sebaliknya, umat Budha dari suku Jawa pun diperbolehkan melaksanakan tradisi Jawa, pun demikian dengan tradisi lainnya.

Sementara itu Firman Lie, seorang pelukis, memotret Imlek dari sudut pandang budaya. Menurutnya, Imlek adalah merayakan datangnya musim semi di China, tidak ada kaitannya dengan agama.” Tapi karena yang beragama itu kan manusia, maka manusianyalah yang ingin merayakan dengan agamanya, termasuk umat Buddha yang keturunan Tionghoa.” Tukasnya.

Meskipun bukan Hari Raya Agama Budha, Firman Lie melihat ada beberapa tradisi Imlek yang selaras dengan ajaran Budha, misalnya tradisi hormat dan mengingat jasa leluhur yang sudah meninggal.

Kendati bukan hari raya agama, biasaan saling bersilaturahmi saat Imlek sama halnya seperti Lebaran bagi umat Muslim juga merupakan tradisi baik yang patut dilestarikan.Bhante Uttamo menghimbau, Tahun Baru Imlek jangan hanya diisi dengan sembahyang dan pesta makan-makan saja. Melainkan dijadikan momen untuk merenung dalam setahun lalu apa yang sudah kita lakukan. Apa yang sudah baik dipertahankan dan terus dikembangkan, apa yang buruk ditinggalkan. Selamat Tahun Baru Imlek 2018.