Cara Lian Gouw Mencintai Indonesia

2017-11-14 18:33:48
Editor : Utami Sulistiowaty | Reporter : CHC Saputro
Lian Gouw, Pendiri Dalang Publishing. (Istimewa)

MELALUI penerbitan karya-karya sejarah dan peradaban Indonesia, merupakan cara Lian Gouw mencintai Indonesia.

Lian Gouw untuk menebus kesalahan masa lalunya kini melalui Dalang Publishing menerbitkan karya-karya sejarah dan peradaban Indonesia. Ini juga cara yang dijalankannya sebagai bukti mencintai Indonesia, tanah kelahirannya.

Mungkin hanya sedikit orang yang tahu kisah penulis buku bertajuk: Only Girl. Orang pasti tak menyangka kalau penulis yang sudah menetap di San Mateo California lebih dari setengah abad ini berasal dari Indonesia. Dia baru menginjakkan kakinya kembali ke Indonesia pada 2010 saat meluncurkan novel berjudul ‘Menantang Phoenix’.

Seperti dikisahkannya kepada VOA Indonesia, Lian Gouw baru mempelajari bahasa Indonesia pada awal 2011. “Sewaktu pulang pada 2010, saya satu kata pun (Bahasa Indonesia) tidak mampu. Saya baru belajar mulai awal 2011,” kata Lian.

Novel besutannya ini, lanjut Lian, berlatar belakang sejarah Indonesia dari 1930 hingga 1952 di era depresi, perang dunia kedua, hingga pemberontakan kemerdekaan terhadap penjajahan Belanda berbaur dengan konflik budaya. Novel ini mengisahkan kedudukan perempuan dalam lingkungan keluarga.

“Novel Only a Girl atau Menatang Phoenix ini mengisahkan perjuangan tiga generasi perempuan Tionghoa-Indonesia dalam mencari jati dirinya,” jelas Lian.

Lian memang sudah gemar membaca dan menulis sejak kecil, sewaktu tinggal di Bandung. Bahkan pernah mendapatkan penghargaan menulis dari sekolah dan surat kabar setempat. Dia mengaku menyesal selama tinggal di Indonesia dan hidup di bawah penjajahan Belanda tidak pernah belajar kebudayaan dan sejarah Indonesia dengan benar.

Bahkan merasa dibungkam sewaktu Presiden Soekarno. Hanya boleh menggunakan bahasa Indonesia. Buku-buku Belanda semua dibakar, disita dan dibakar. “Tetapi sekarang saya mengerti dan tahun yang lalu, saya pergi ke makam Bung Karno dan saya minta maaf,” ujar Lian.

Untuk menebus penyesalannya dan sebagai bukti kecintaannya pada dunia menulis dan Indonesia. Kini Lian mendirikan penerbitan Dalang Publishing yang telah menerjemahkan delapan novel Indonesia ke dalam Bahasa Inggris. “Saya hanya menerbitkan tulisan sejarah dan kebudayaan. Kalau tidak ada kaitannya dengan sejarah dan kebudayaan, saya tidak akan menerbitkannya. Pasalnya, banyak kerjaannya dan juga uang yang dikeluarkan banyak, ” ujar Lian.

Terkini Lian, melalui Dalang Publishing sedang menggarap buku bertajuk: Dasamuka karya penulis dari Purworejo Junaedi Setiyono.