Sekelumit Cerita Ibunda Ahok

Kamis, 23 Februari 2017 09:54:46
Editor : Saparuddin Siregar | Sumber : Infonitas.com
Buniarti Ningsih (Malik Maulana)

Sejak tahun 1997, peran ayah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) digantikan oleh Ibundanya, Budiarti Ningsih.

BUNIARTI Ningsih, Ibunda dari Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merupakan perempuan yang sangat disegani dan ditakui oleh orang nomor satu di Ibukota. Pasalnya, perempuan berusia 71 tahun ini harus menjadi tulang punggung keluarga sejak Ayah Ahok, Indra Tjahaja Purnama meninggal pada tahun 1997.

Bagi mantan Bupati Belitung Timur ini, Buniarti adalah pahlawan pertama yang mempertaruhkan nyawa demi melahirkannya di dunia. Peran Ibu sangat berpengaruh dalam hidup suami dari Veronica Tan ini, sampai-sampai ketakutan jika Buniarti meninggal lebih dahulu daripada dirinya.

Sebenarnya Buniarti lebih menginginkan putra sulungnya tersebut menjadi dokter ketimbang terjun ke dunia politik. Namun, berawal dari sifat keras Ahok untuk merubah kondisi sekitar yang dirasa tidak memberikan keadilan bagi warga, akhirnya Nenek dari Nicholas Sean Purnama ini mendukung keinginan kuat anaknya tersebut. rasa kesal dan keterpurukan kondisi sekitar sejak Ahok masih kecil

“Tapi dia bilang dia tidak ada tampang jadi dokter,” kenang Buniarti menirukan jawaban anaknya.

Perempuan yang menjanda saat berusia 51 Tahun ini mencontohkan sifat kepedulian terhadap sesama yang sudah dilakukan sejak muda. Saat itu, Ahok masih menjadi siswa SMA di Ibukota datang ke tempat makan cepat saji yang baru buka pertama kali di kawasan Plaza Gajah Mada.

Waktu itu, mantan politisi Golkar ini melihat ada tukang semir yang berada di luar resto tersebut sedang mengintip dirinya saat makan lewat jendela, kemudian keluarlah Ahok untuk memberikan makanan dan semua uang sakunya.

"Dia cerita ke saya, 'Mama, mereka setelah saya kasih ayam langsung lari pulang bawa itu kotak semirnya, mungkin mereka ingin segera pulang, berikan ayam itu pada anak dan mamanya. Jadi, dia itu keras karena kesel, kenapa ada orang susah? Kenapa orang korupsi? Padahal dulu orang mau berjuang demi negara," kata Buniarti.

Saat Pilkada tahun ini, Buniarti selalu memberikan dukungan kepada Ahok dengan mendatangi berbagai acara kampanye putra sulungnya. Salah satunya sewaktu deklarasi perempuan Basuki-Dajarot (BaDja) di gedung Smesco, Jalan Gatot Subroto. Jakarta Selatan pada 19 Desember 2016.

Rasa sayang dan menganggap Buniarti sebagai super hero, Ahok pun selalu minta doa dan dukungan  Ibundanya tersebut saat tersandung kasus dugaan penistaan agama. Sebelum mendatangi Mabes Polri untuk diperiksa, bapak tiga anak tersebut tidak lupa menelepon ibunyayang tinggal di Belitung Timur.

Percakapan telepon Ahok dengan ibunya direkam dalam sebuah video oleh anggota keluarga di Belitung. Percakapan telepon Ahok dan ibunya, Bunarti Ningsih

"Hari ini mau ke Bareskrim dipanggil jadi tersangka. Mama doa saja", kata Ahok di telepon.

"Ya mama doa. Tetap mama doa. Kau hati tenang, kau baru bisa doa yah", jawab Buniarti Ningsih.

"Yang penting kita doa. Tuhan dengar doa kita kok, semua orang juga."

"Semua serahkan sama Tuhan yah. Tuhan yang bisa tahu bagaimana lebih baik. Pokoknya, tidak usah takut. Kita tenang, baru dapat doa."

"Mama doa, semua juga doa. Teman-teman. Semua juga berdoa. Agama apa juga doa untuk dukung Ahok yah. Tidak usah takut, ya."