Thomas Lembong, Si Penjaga Investasi di Indonesia

2017-09-28 15:49:40
Editor : Azis Faradi | Reporter : Tim IndoChinaTown
Thomas Lembong (Istimewa)

THOMAS Lembong dipercaya presiden menjadi penjaga investasi di Indonesia. Menjaring dana lokal dan asing untuk berbagai proyek.

Nama lengkapnya Thomas Trikasih Lembong. Sejak Juli 2016, dipercaya menjadi kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Jabatan sebagai penjaga investasi di Indonesia itu dilakoni setelah tergeser dari kursi Menteri Perdagangan.

Kelahiran 4 Maret 1971 ini merupakan keponakan Eddie Lembong, salah satu pendiri Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) dan Yayasan Nabil, dari bapaknya Yohanes Lembong( Ong Joe Gie), seorang dokter ahli jantung.

Sebelumnya Thomas Lembong dipercaya menjadi Menteri Perdagangan dari 2015 sampai 2016. Waktu itu menggeser Rachmat Gobel. Pengganti Thomas di Kementerian Perdagangan juga sesama Tionghoa yaitu Enggartiasto Lukita.

Di pemerintahan juga pernah terlibat sebagai bagian dari tim Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Dia tergabung selama 2 tahun.

Sebelum menjadi bagian dari pemerintahan di bawah Presiden Joko Widodo (Jokowi), Thomas merupakan pengusaha sekaligus profesional di bidang finansial, terutama investasi.

Pendiri Quvat Management (Quvat), private equity fund,  tahun 2006 ini punya pengalaman mumpuni dalam menggalang investor. Saat masih di sektor swasta, dia bersama tim memimpin investasi Farindo Investments, konsorsium antara Farallon Capital dan Djarum Group, untuk mengakuisisi 51 persen saham BCA.

Investasi penting lainnya, melakukan back-up pengusaha nasional untuk akuisisi Adaro Coal, dibeli dari pengusaha Australia. Tangan dingin Thomas juga terbukti dengan kepercayaan dari investor Amerika Serikat menanamkan dana sebesar US$ 500 juta di berbagai sektor.

Termasuk dengan hadir bioskop Blitz, yang menjadikan pasar hiburan bergairah di Indonesia. Bahkan terjadi pertumbuhan industri bioskop sebesar 20 persen per tahun.

Di internal BKPM, Thomas membuat kebijakan supaya pejabat internal harus berorientasi pada pengetahuan digital. Sehingga memudahkan berhubungan dengan para investor dari luar negeri.

Ia juga aktif terjun langsung menjemput bola. Terbang ke berbagai negara untuk merayu investor asing agar mau menamkan modalnya di Indonesia. Terutama untuk pembangunan infrastuktur dan kawasan industri.

Dia juga berani mengiming-imingi investor asing tentang kemudahaan prosedur melakukan investasi di Indonesia. “Peraturan berbelit-belit, tumpang tindih, pelayanan dan prosedur investasi di pemda masih jauh dari yang diharapkan. Maka kami bantu beri solusi, salah satunya dengan restrukturisasi BKPM,” jelasnya.